Afrizal Dwi Wijanarko
KISAH TENTANG AKU DAN IBU


Haloo semuanya, perkenal nama saya Afrizal Dwi Wijanarko, disini saya akan menceritakan sedikit kisah tentang ku. D

Waktu aku kecil dari baru lahir aku dirawat oleh ibuku, aku diasuh, dibimbing, di didik dan diajarkan bagaimana rasanya berjuang dan hidup dalam kesederhanaan. Kala itu aku masih ingat ketika ibuku masih berjualan dan aku selalu ikut membonceng dibelakangnya. Waktu itu memang masih menggunakan sepeda karena dulu masih sedikit yang mempunyai kendaraan bermotor, tidak seperti sekarang yang banyak sekali punya sepeda motor sampe jalan pun macet karena motor. Aku masih ingat ketika sedang berjualan dan ibu ku mengayuh sepeda nya, aku dibelakangnya tiba-tiba kaki ku mengenai ruji sepedanya atau yang dinamai kecepit. Sakit sekali yang aku rasakan dan ibuku mulai khawatir, akhirnya ibuku mengantarkanku pulang kerumah. Ia dengan ikhlas mengobati agar aku cepat sembuh dan tidak sedikitpun ia memarahiku karena keteledoranku. Aku sangat bangga dan sayang sekali sama ibuku. Ia menghidupiku penuh dengan kasih sayangnya. Ketika dirumahpun ibu selalu memasak untuk aku dan keluargaku sesuai dengan lauk kesukaanku.

            Masih teringat dipikiranku, ketika aku memasuki umur 7 tahun atau baru pertama masuk TK aku tak tau apa yang di rasakan oleh ibuku, kejadian ini saat semua di rumah nenek ku yang tempatnya di pekalongan, aku merasakan kesedihan yang amat dalam karena ibu akan pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah, aku menangis dan menarik-narik baju ibuku agar ibuku tidak pergi ke luar negeri untuk meninggalkanku dan keluargaku. Aku pun menangis tiada henti karena aku tidak menyangka ibu akan meninggalkanku pergi ke luar negeri. Sampai akhirnya aku sadar ternyata tujuan ibu ku pergi ke luar negeri karena aku tahu uang hasil jualan dan kerja hasil bapak ku tidak mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Sungguh mulia ibu ku, ia mengambil keputusan yang baik demi untuk aku dan keluargaku.

            Awal mulai masuk TK aku diantarkan dan ditemani oleh budhe ku karena bapak ku kebetulan sibuk bekerja dan aku belum terbiasa sendiri. Semenjak itu aku bergantian aku dirawat dan diasuh oleh budheku sendiri. Ketika pulangpun aku makan dirumahnya budhe, karena dirumah juga aku sendiri, bapak ku kerja dan kakak ku pun sekolah. Budhe ku juga seorang yang sayang padaku ia mau merawatku dan selalu memberikan uang ketika aku pingin beli jajan. Budhe ku lah yang selalu peduli dan memerhatikanku seperti anaknya sendiri. Terkadang ketika malem hari waktu aku, kakak dan bapak berkumpul, mereka selalu mengajak bercandaan dan hiburan. Mungkin inilah cara mereka menghiburku agar bisa mengurangi kesedihan terhadapku. Namu rasa kangen ku terhadap ibu ku pun sangat dalam, dan aku selalu mengirim kan surat untuknya agar aku bisa bertemu dengan ibu ku lagi.

            Waktu demi waktu pun berjalan setelah aku mulai mandiri dengan semunya, di SD kelas 3 entah aku tak tau mungkin tuhan mengabulkan permohonanku, ketika aku pulang sekolah ibu ku sudah didepan rumah. Aku pun langsung memeluknya dan senang sekali aku melihatnya. Tapi ibuku cuma 2 bulan dirumah, bagiku itu tak apa-apa yang penting bisa bertemu ibu kembali. Terkadang aku masih malu untuk minta uang padanya karena 3 tahun lebih ditinggalkannya. Ibu ku ternyata masih ingat apa masakan kesukaan ku dan selalu masakin buat aku. Sampai akhirnya 2 bulan dilewati aku bisa bertemu dan bertatap muka langsung  dan canda tawa dengan ibu ku, kini ia harus berangkat lagi ke luar negeri, aku sempet menangis sedih karena hanya cuma sebentar aku bertemu dengan ibu. Tapi ibu janji nantinya akan pulang 3 tahun lagi, aku pun senang mendengarnya.

            Aku mulai belajar hidup mandiri sejak itu, mulai mencari makan sendiri dan nyuci baju sendiri. Karena aku tau aku harus berjuang untuk ibu, karena ibu juga berjuang untuk masa depanku.
Tapi justru kemandirian ku waktu itu malah menjadi bocah nakal sering main, sering berantem sama temen dan juga sering berkelahi. Sampai akhirnya ibu ku menelepon dan menasehatiku akan kenakalanku. Akhirnya aku sadar dan tidak mengulanginya lagi. 3 Tahun berlalu akhirnya ibuku pulang kembali ke rumah, waktu itu aku kelas 6 SD. Mungkin sudah direncanakan sebelumnya, ketika ibuku pulang saat itu bebarengan aku di sunat kan. Mungkin rasa sakit sunat ku tidak begitu terlalu sakit karena di dampingi oleh sesosok ibu yang selalu mendoakanku dan merawatku. Aku selalu bersyukur sunatku masih di dampingi oleh ibu semoga saja acara nikahanku nanti juga di dampingi oleh ibu lagi. Amin
J

            Tahun berganti tahun terus berjalan sampai aku lulus SD, lulus SMP, dan lulus SMA. Seperti biasa ibu ku selalu pulang 3 tahun sekali. Dan sekarang alhamdulillah aku bisa kuliah dengan jurusan yang aku inginkan, aku tau semua itu berkat ibu yang selalu bekerja keras demi untuk ku. Ternyata ibu ku selama ini pergi ke luar negeri hanya untuk kebahagiaan anaknya. Ibuku lebih baik mengambil keputusan yang terbaik selama ini, walau pun jarang ketemu tapi itu adalah suatu cara demi kebahagiaan anaknya nanti. Mungkin kalo ibuku tidak pergi kesana, aku mungkin sudah tidak kuliah seperti ini. Ibu ku memang terbaik buatku. Aku sayang sekali sama ibuku. Mungkin sekarang aku belom bisa membahagiakan nya dan membalas budi apa yang ibu berikan semua nya padaku. Tapi aku akan selalu berjuang dan bekerja keras, aku tidak mau menyia-nyiakan perjuangan ibu ku. Aku harus bisa membahagiakan beliau walaupun itu tak seberapa bagi nya. TUNGGU ANAKMU INI SUKSES YA BU J

Saran dari aku :
            Jangan sesekali membantah apa yang diperintah oleh ibu mu, ibu mu itu berjuang mati-matian hanya untuk mu, ia rela melakukan apa saja demi kebaikan anaknya. Maka dari itu jangan sia-sia kan pengorbanan dan perjuangan ibu mu selama ini. Kalian sudah besar mana tau yang baik dan tau mana yang buruk. Jadi pilihlah jalan terbaik agar kamu bisa membahagiakan ibumu. Ingat ! SURGA ADA DI TELAPAK KAKI IBU J


Created by : Afrizal Dwi Wijanarko


0 Responses

Posting Komentar